Jumat, 20 Januari 2012

Mengubah Batok Kelapa Menjadi Rupiah

Ade Sumarno dengan kerajinan Batok Kelapanya
Jakarta - Limbah tak selamanya hanya menjadi sampah. Dengan sedikit kreatifitas, barang yang tidak bernilai bisa diubah menjadi 'mesin penghasil uang'. Salah satu contohnya adalah cangkang atau batok kelapa.

Batok kelapa yang tidak bernilai, masih bisa disulap menjadi barang bermanfaat, salah satunya adalah dibakar untuk menjadi arang. Namun ternyata, cangkang kelapa ini masih bisa diubah menjadi barang yang lebih bernilai dari sekedar arang saja.

Adalah Ade Sumarno, seorang pria berumur 27 tahun yang berhasil menyulap batok kelapa inimenjadi berbagai barang unik. Mulai dari barang keperluan sehari-hari hingga hiasan rumah yang memiliki nilai seni.

Ade mulai menggeluti bisnis ini sejak tiga tahun lalu. Awalnya, ia mengubah limbah kelapa tersebut menjadi pernak-pernik untuk ucapan terima kasih di pernikahan. Bentuknya macam-macam, mulai dari sendok, garpu, asbak dan lain-lain.

"Modalnya tidak banyak, hanya perlu batok kelapa, alat potong seperti gergaji, lem dan ampelas saja," katanya kepada detikFinance ketika ditemui di tempat kerjanya, Bandung, Minggu (6/11/2011).

Ia pun mulai melebarkan usahanya dengan mencoba menggali kreatifitasnya supaya bisa memberi nilai tambah bagi usahanya tersebut. Ade pun mulai mencoba membuat pajangan dan hiasan rumah dari batok kelapa tersebut.

Sudah beberapa pajangan ia hasilkan, berbentuk gajah, kuda bahkan mahluk mitologi yang hanya ada dalam dongeng, yaitu naga. Ia mengaku bisa menerima pesenan untuk hiasan rumah tersebut, tak hanya bentuk yang sudah ada, tapi tergantung keinginan pelanggan.

"Semua model juga bisa tergantung keinginan. Bisa model becak atau motor Harley (Davidson). Binatang lain juga bisa tak hanya kuda atau naga," katanya.

Untuk waktu pengerjaan, Ade mengatakan, tergantung dari bentuk dan tingkat kerumitan pemesanan. Ia mencontohkan, pengerjaan model naga yang cukup rumit memerlukan waktu sekitar dua minggu, sementara model kuda yang lebih sederhana bisa rampung sekitar empat hari saja.

Harga yang ditawarkan pun beragam, sesuai dengan tingkat kesulitan dan hasil akhirnya. Ia menjual pajangan dan hiasan batok kelapa mulai dari Rp 500 ribu sampai Rp 1,5 juta.

Selama ini, Ade yang belum memiliki toko sendiri, menjajakan barang dagangannya dengan menitip di galeri-galeri seni hingga gerai-gerai di stasiun dan hotel. Namun, ia mengaku pembelian paling sering dilakukan oleh orang asing melalui pemesanan.

"Banyaknya yang beli memang dari luar. Mereka biasanya telepon ingin model seperti apa. Nanti setelah selesai langsung dikirim," ujarnya.

Selain itu, ia kini sedang mencoba untuk mengkolaborasi buah karyanya itu dengan medium keramik. Salah satunya adalah merangkai batok kelapa yang sudah dipotong di atas papan keramik berukuran 30x30 cm.

Menurutnya, keramik tersebut bisa disusun di tembok sehingga menjadi hiasan dinding yang cukup menawan. Bahkan, ia mengaku pernah menerima pesanan dari salah satu direktur Badan Usaha Milik Negara (BUMN) untuk menghias seluruh dinding kamar mandinya dengan ornamen batok kelapa tersebut.

Atas jerih payahnya tersebut, ia bisa meraup omzet sekitar Rp 10-20 juta per bulan. Uang yang cukup besar tersebut awalnya hanya dari modal yang sangat kecil, bahkan tak sampai jutaan rupiah.

"Dari satu karung (batok kelapa) itu tidak sampai Rp 100 ribu. Itu isinya sekitar 10 kg, bisa jadi puluhan bentuk akhirnya," tambahnya.

Tertarik dengan peluang usaha ini?

Hubungi:
Ade Sumarno
Jalan Terusan Dursasana
Bandung 40173
Email: Ade_magrib@yahoo.co.id
Facebook: Ade_magrib@yahoo.co.id

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar